Akan "Ada" itu nyata

 Bukan tiba-tiba hadir dimasa waktu hari ini. Sekarang aku paham mengapa kebanyakan orang bersedih hati bahkan menangisi sebuah perpisahan. Ahh tidak, itu hanya angan-angan semata. Tapiii... mengapa pipi ini tiba-tiba basah. Heheheee rupanya aku menangis. Waktu yang telah lampau tak pernah ada dibenak hati, dimana "ada" nya perpisahan merupakan sesuatu yang tidak nyaman untuk dirasakan. Bagaimana bisa kita memikirkan untuk berpisah. Terbesit saja tidak pernah, apalagi membayangkan harus seperti apa nantinya. Begitu juga dengan pertemuan kita diawal.
Aku tidak pernah membayangkan akan seperti apa jalan kehidupan ini nantinya. Kini aku terperdaya akan adanya dirimu dalam hidupku. Yang rupa-rupanya juga tidak bisa bersama.Tidak pernah mengerti bagaimana harusnya kisah ini berjalan, seakan-akan semua memang begitu adanya. Belum pernah aku merasakan hadirnya orang yang bisa membuat duniaku berputar. Kamu takdirku, tapi mungkin aku bukanlah takdirmu. Seketika fotomu yang terpampang jelas diruang kecil terlihat nyata, tapi itu dulu. Kita pernah "ada". Kamu yang hadir hanya sesaat, bagaikan orang yang menumpang minum disebuah kedai disaat perjalanan jauh untuk beristirahat. Sesak memang bila ditarik sampai kebelakang jauhnya, tapi merindu ku seperti ini caranya. Bila tidak terpatri lagi dirimu dalam hidupku, maka usai sudahlah hidupku.
Diriku hidup karena mu, tapi tidak dengan dirimu. Melihat saja pun tidak, menyadarinya pun tidak, seakan kita tak pernah bersama. Bolehkah anganku tentangmu yang dulu pernah "ada" kembali ku kubur, agar diriku bisa tetap berjalan dan terus mencoba untuk bangkit dari masa ini??
Setiap masa, setiap helaan nafas, setiap perjalanan yang kita jalani bersama, selalu menyayat hati kecil yang ada didalam tubuhku, seakan setiap mengingat masa itu aku selalu terpuruk untuk waktu yang sangat lama, aku tidak pernah membayangkan jika harus sesakit dan semenyedihkan ini. Apa yang harus ku perbuat, untuk bisa bangkit dari masa yang sangat menyakitkan itu.
Ternyata sakitnya seperti ini. Jikalau saat itu aku tidak banyak memihakmu, mungkin aku tidak sejatuh ini. Diriku rapuh bila berhadapan denganmu. Tidak adakah dirimu mencoba untuk mengerti, walau hanya sedikit saja?

mari kembali untuk memutuskan

salam dariku-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

- Saja -

Kapal - Berlabuh

Intinya antara